Moralitas Pemimpin: Umar Bin Khattab dan Yahudi yang Gubuknya Digusur

Fitrah Insani
Umar Bin Khattab
Cerita Moral dari Pertemuan seorang Yahudi Tua dengan Khalifah Umar bin Khattab (foto: sorotbengkulu.com)
Tokoh Komputer Bengkulu

SorotBengkuluAmr bin ash atau Amru ibn ash, dia menjabat sebagai seorang Gubernur Mesir ketika itu. Dia salah seorang sahabat dekat Nabi, kala beliau masih hidup dan sekaligus sahabatnya Umar bin Khattab.

Suatu ketika Gubernur Amr berniat mendirikan sebuah Mesjid besar nan megah sebagai tempat peribadatan bagi umat Muslim yang cukup representatif sebagai bangunan Mesjid terbagus yang ada di kota Mesir juga sekaligus untuk menunjukkan rasa cintanya terhadap Tuhan dan komitmentnya terhadap Islam.

[ez-toc]

Pembangunan Megah Mesjid oleh Amr bin Ash

Demi memudahkan akses masyarakat menuju Mesjid tersebut. Amr bin ash kemudian memilih tempat yang cukup strategis untuk pembangunan sebuah Mesjid yang ia proyeksikan sebagai mesjid termegah yang ada di Mesir yang tengah ia pimpin. Setelah menemukan lokasi yang dirasa pas dan cukup strategis yang kira-kira berada di tengah kota Mesir dan di tengah pemukiman penduduk.

Kemudian, Amr bin Ash, menemui beberapa pemilik lahan untuk berunding agar pemiliknya bersedia melepaskan lahan miliknya dan diganti dengan harga pantas bahkan melebihi nilai lahan tersebut. Namun, hanya ada satu lahan saja lagi, yang menjadi halangan, lahan tersebut diatasnya berdiri sebuah gubuk yang dihuni oleh seorang Yahudi tua, pemilik rumah gubuk ini tidak mau pindah.

Konflik dan Penolakan oleh Yahudi Tua

Yahudi tua itu tidak mau menjual lahan sekaligus rumah gubuk yang dimilikinya itu. Namun, Amr bin ash tetap berusaha agar ia mau melepaskan lahan tersebut dengan menawarkan harga ganti berlipat yang jauh melebihi dari nilai tanah dan bangunan yang dimilikinya.

Tetapi, tetap saja, orang yahudi ini tak mau melepaskan lahannya, baginya terlalu banyak kenangan yang dimilikinya di gubuk tua itu. Cukup kesal Amr bin ash atas sikap keras kepala orang yahudi itu yang tidak mau menjual tanah miliknya meski diganti dengan ganti rugi yang berlipat ganda.

Amr bin Ash merasa jika dia tidak dihormati oleh orang itu sebagai pejabat tinggi yaitu sebagai seorang Gubernur Mesir. Amr bin ash pun marah, pikirnya;

“siapa dia yang berani menolak iktikad baik seorang Gubernur disini? dia siapa? dia bisa apa? Sedangkan disini ia hanya kelompok minoritas saja, tentu tak terlalu beresiko secara sosial jika rumahnya itu digusur paksa”.

“Toh, sebelumnya sudah diajak berunding baik-baik”.

Akhirnya, rumah Yahudi itu digusurnya paksa. Tak dipedulikannya lagi si Yahudi tua keras kepala itu. Amr berusaha meyakinkan dirinya bahwa perbuatannya tidak salah, pikirnya;

“lagian ini demi kepentingan “Umat Islam” dan tentu kepentingan orang banyak”.

Seketika, ia pun kehilangan gubuk kesayangannya itu. Kesedihan, kemarahan, dan ketidakberdayaan di depan penguasa menyelimuti hatinya. Bukan niatnya untuk menentang sang penguasa yang amat disegani penduduk Mesir, dia hanya mempertahankan haknya.

“Aku amat yakin jika orang tidak bisa dipaksa untuk menjual sesuatu kepada pihak lain, sebab itu haknya, tentu terserah si pemilik mau dijual atau tidak, ini merupakan hak prerogatif pemilik,” gumamnya.

Perjuangan Yahudi Tua Mencari Keadilan

Si Yahudi itupun perasaannya berkecamuk, dia telah ditindas dan diperlakukan secara tidak adil, dia berfikir kemana ia harus protes, kemana ia harus mengadu?

Baca:  Yastrib dan Onta sebagai Penentu Tempat Tinggal Nabi

Apakah dengan mencari dan meminta bantuan pejabat di Mesir yang seagama dengannya, yang bisa betul-betul mengerti bagaimana perasaan dan penderitaannya?

Mungkin dengan begitu mau menolong dan berusaha meyakinkan Gubernur untuk mengembalikan gubuknya itu? sedangkan dia tahu jika di Mesir puncak jabatan berada di tangan Amr bin ash yang justru telah menggusur gubuknya itu.

Namun akhirnya, pikirannya tertuju kepada atasan Gubernur Amr bin Ash, yaitu seorang Khalifah yang pada waktu itu tempatnya berpusat di Madinah, Khalifah tersebut bernama Umar bin Khattab yang terkenal tegas dan adil.

Meski tidak terlalu yakin, protesnya akan didengar dan dapat diberi keadilan sesuai dengan keinginannya, sebab ia sendiri tahu jika Khalifah Umar tentu memiliki kedekatan dengan Gubernur, sebab Gubernur sendiri diangkat oleh Khalifah.

“Apakah mungkin protes seorang Yahudi seperti saya bisa menggagalkan pembangunan Mesjid yang penguasanya adalah orang-orang Muslim? Bukankah kepentingan orang-orang Muslim yang akan didahulukannya?” pikirnya.

Belum lagi protesnya bisa saja ditolak oleh khalifah, sebab bisa dikatakan bahwa penolakannya terhadap kebijakan Amr bin ash bisa dimaknai menentang pembangunan Mesjid di Mesir, dan mungkin saja akan dianggap menentang Islam, justru hal ini bisa membahayakan nasibnya sendiri.

Akhirnya ia tetap membulatkan tekad untuk tetap berangkat ke Madinah dan membuang berbagai macam keraguannya itu, sebab tidak ada cara lain yang memungkinkan bagi dia agar gubuknya itu bisa kembali.

Perjalanan Yahudi ke Madinah untuk Bertemu Khalifah Umar

Dengan melengkapi berbagai perbekalan, ia pergi dari Mesir menyusuri padang pasir siang dan malam menempuh perjalanan menuju Madinah, tempat Khalifah Umar berada.

Tibalah dia di Madinah dengan harapan akan keadilan yang walaupun bercampur dengan keraguan. Kemudian, Dia bertanya kepada orang-orang yang ia temui di Madinah.di mana ia bisa bertemu dengan Khalifah.

Dari jawaban orang yang dia temui, ia akhirnya tahu, Umar selalu mengimami shalat di Masjid Nabawi ketika waktu shalat tiba.

Akhirnya ia bertemu Umar sang Khalifah, cukup terkejut dia, bahwa Umar yang dia temui tidak sesuai dengan orang yang dibayangkannya. Sempat ragu dia, apakah benar dihadapannya adalah seorang Khalifah.

Pakaian yang dipakai seorang Khalifah itu ternyata hanyalah pakaian yang sederhana sebagaimana rata-rata pakaian penduduk Madinah, dan Umar hanya berjalan sendiri tanpa pengawalan.

Ia pun kemudian menghampiri Umar. Setelah saling menyapa, ia kemudian menjelaskan niatnya melintasi padang pasir, dari Mesir hingga Madinah hanya untuk menemui Umar.

Pesan Simbolik Khalifah Umar Bin Khattab kepada Amr bin Ash

Setelah mendengar penjelasan si Yahudi itu, tampak Umar memendam marah, wajahnya seketika merah padam dan giginya bergemeletukan.

“Jangan-jangan Umar marah kepadaku” pikirnya. Setelah beberapa saat merenungkan cerita itu. Umar kemudian mengambil sebuah tulang belikat Onta tidak jauh dari tempat mereka bercakap dan menorehkan dua garis yang berpotongan: satu garis lurus vertikal dan satu garis lainnya berpotongan.

Baca:  Perang AI: Dampak dan Implikasi pada Industri dan Masyarakat

Umar lalu menyerahkan tulang tersebut pada orang Yahudi itu dan memintanya untuk memberikannya pada Gubernurnya “Bawalah tulang ini dan berikan kepada Amr bin ash. Katakan bahwa aku yang mengirim tulang ini untuknya dan tulang ini juga yang akan menyampaikan pesanku kepadanya”.

Perjalanan panjang kembali ia tempuh dari Madinah ke Mesir, untuk menyampaikan Pesan Khalifah kepada Gubernurnya yang disampaikan secara simbolik dengan tulang yang ia bawa.

Tibalah ia kembali ke Mesir. Segera ia menyampaikan kepada pengawal Gubernur yang bertemu dengannya, bahwa ia telah membawa pesan dari Khalifah Umar bin Khattab untuk disampaikan kepada Gubernur. Lalu pengawal itu menyampaikannya kepada Amr bin ash. Mendengar nama Umar bin khattab disebut, bergetar hati Amr bin ash, lalu ia memerintahkan tulang itu segera dibawa kehadapannya.

Setelah tulang itu diterima oleh Amr bin ash, ia langsung gemetaran, ia amat ketakutan mendapat pesan yang sangat keras dari salah seorang sahabat terbaik Rasul. Ia menangis sambil menciumi tulang itu. Para pengawal terkejut melihat bagaimana reaksi Amr bin ash mendapatkan pesan Umar.

Padahal Amr bin ash sendiri dikenal sebagai pahlawan, yaitu orang yang dikenal gagah, pemberani dan tangguh, yang ikut bertempur untuk membebaskan manusia diberbagai wilayah semenjak Nabi masih hidup hingga pada masa Umar menjadi khalifah.

Amr bin ash adalah orang yang tidak kenal takut kepada orang yang melakukan penindasan kepada sesama manusia. Ia memiliki berbagai pengalaman sebagai komandan baris terdepan dalam perang melawan kebengisan manusia terhadap manusia lain. Namun pesan Umar seperti menyampaikan kepadanya bahwa;

“Sekarang kamu telah bersikap menjadi penindas itu, yang selama ini kamu perangi!”.

Perubahan Kebijakan Gubernur dan Penyesalan

Pesan Simbolik Khalifah Umar

Setelah sejenak menenangkan diri, Amr bin ash memerintahkan bawahannya dengan suara yang keras dan tegas;

“Hentikan pembangunan Mesjid!”
“Bangun kembali rumah itu!”
“Perlakukan dia dengan hormat!”
“Beri dia uang sebagai pengganti biaya perjalanannya ke Madinah!”
“Kita akan mencari lahan lain untuk pembangunan Mesjid, tapi tidak diatas lahan rumahnya.” Tutur Amr bin ash.

Lalu Gubernur itu pun menyampaikan penyesalannya dan meminta maaf kepada Yahudi tersebut.

Terheran-heran Yahudi itu, terlihat jelas di depan matanya jika pesan Umar menampar Amr bin ash dengan keras. Seperti terlihat jika Umar memandang apa yang dilakukan oleh Amr bin ash bukan persoalan sepele dan remeh temeh.

Ini justru amat prinsipil. Ia pun kemudian bertanya pada Amr bin ‘Ash yang reaksinya membuat ia heran bukan kepalang, setelah menerima tulang yang dikirim oleh Umar. Amr bin ash pun menjawab,

“Ini adalah pesan peringatan dari Umar bin Khattab bahwa setiap manusia akan menjadi tulang belulang, begitu pula aku, sebagaimana pesan yang disampaikan oleh tulang yang kau berikan ini, selanjutnya garis lurus ini agar aku selalu berlaku lurus (adil). Jika aku tidak bertindak lurus maka Umar akan memenggal leherku sebagaimana garis horizontal di tulang ini.”

Mendengar penjelasan Amr bin ash, si Yahudi tua tak kuasa menahan haru. Betapa keras dan tegasnya Sang Khalifah terhadap siapapun melakukan penindasan walau itu orang terdekatnya sendiri, bahkan seagama dengannya. Padahal dia hanya seorang Yahudi ditengah komunitas Muslim.

Baca:  Dapur Kapal Pesiar Terbesar di Dunia: Sehari Memasak Ribuan Porsi

Hanya demi membela dirinya yang kecil, Umar tidak segan kepada siapapun dan memberinya peringatan yang amat keras dan tegas. Bahkan Umar sang Pemimpin Tertinggi bermaksud datang untuk memancung kepala sahabatnya sendiri, jika ia tetap tidak mau berubah dan tetap melakukan penindasan.

Pelajaran Moral dari Kisah Ini

Kisah ini mengajarkan pelajaran moral tentang keadilan, penegakan hukum, dan tanggung jawab pemimpin terhadap keputusan mereka. Tulisan ini menyiratkan pentingnya adil dan tegas dalam menjalankan kebijakan publik, bahkan jika itu melibatkan tindakan terhadap rekan seagama.

  1. Mengapa Amr bin Ash memutuskan untuk mendirikan Mesjid megah di Mesir?
    Amr bin Ash ingin mendirikan Mesjid sebagai tempat ibadah umat Muslim yang representatif dan sebagai wujud komitmen terhadap Islam.
  2. Apa hambatan utama yang dihadapi Amr bin Ash dalam pembangunan Mesjid tersebut?Hambatan utama adalah pemilik tanah Yahudi tua yang enggan melepaskan lahan dan gubuknya untuk pembangunan Mesjid.
  3. Bagaimana Yahudi tua merespon usaha negosiasi Amr bin Ash?
    Yahudi tua menolak keras untuk menjual tanahnya, menganggapnya memiliki kenangan berharga di gubuk tersebut.
  4. Apa langkah yang diambil Amr bin Ash ketika negosiasi tidak berhasil?
    Amr bin Ash memutuskan untuk menggusur gubuk Yahudi tua secara paksa, menghadapi konsekuensi dari keputusan kontroversial ini.
  5. Bagaimana Yahudi tua mencari keadilan setelah gubuknya digusur?
    Yahudi tua memutuskan untuk pergi ke Madinah untuk bertemu Khalifah Umar bin Khattab, berharap mendapatkan keadilan.
  6. Apa pesan simbolik yang dikirimkan Khalifah Umar kepada Amr bin Ash?
    Khalifah Umar mengirimkan tulang belikat onta dengan dua garis, memberikan pesan simbolik tentang adil dan tanggung jawab pemimpin.
  7. Bagaimana reaksi Amr bin Ash setelah menerima pesan Khalifah Umar?
    Amr bin Ash terkejut dan merasa bertanggung jawab, mengubah kebijakannya, menghentikan pembangunan Mesjid, dan memberikan kompensasi kepada Yahudi tua.
  8. Apa pelajaran moral yang bisa dipetik dari kisah ini?
    Kisah ini mengajarkan pentingnya keadilan, penegakan hukum, dan tanggung jawab pemimpin terhadap kebijakan mereka, bahkan jika melibatkan tindakan terhadap rekan seagama.
Penulis: Fitrah InsaniEditor: Fitrah Insani
Gege Interior Bengkulu