Dempo XLer

Saat Jadi Presiden, Gus Dur Pernah Menyuruh Kanjeng Ratu Kidul Untuk Pakai Jilbab

Pilpres 2024
Presiden Gus Dur
Gus Dur, mengambil pendekatan unik dalam menjalin hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul
Tokoh Komputer Bengkulu

SorotBengkulu – Sebagai seorang presiden, Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus dur, mengambil pendekatan unik dalam menjalin hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul dengan harapan untuk memutuskan ikatan spiritual antara kekuasaan di Nusantara dan entitas tersebut.

Gusdur, sebagai seorang pemimpin, dihadapkan pada tanggung jawab kenegaraan yang memerlukan keseimbangan antara keyakinan masyarakat dan kepemimpinan yang efektif. Ketika Panembahan Senopati naik tahta, terjadi pergeseran kekuasaan yang menandai pergantian dari Walisongo kepada Dewi Nawang Wulan, yang lebih dikenal sebagai Kanjeng Ratu Kidul.

Memutus Rantai Hubungan dengan Kanjeng Ratu Kidul dengan Sentuhan Humor dan Kedalaman Makna

Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai eksistensi sejati Kanjeng Ratu Kidul, Gusdur memilih pendekatan yang penuh simbolisme. Saat Panembahan Senopati menjadi raja, Walisongo digantikan oleh Dewi Nawang Wulan, atau yang lebih akrab dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul. Meski ada perdebatan apakah Kanjeng Ratu Kidul benar-benar sosok nyata atau hanya mitos belaka, yang jelas, keberadaannya memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, bahkan mungkin mengalahkan akal sehat dan pengetahuan yang lebih rasional.

Baca:  Tradisi Haul Gus Dur: Memahami Spiritualitas, Kebangsaan, dan Kehidupan Pribadi yang Menginspirasi

Sebelum dilantik sebagai presiden, ketika ditanya oleh Cak Nun tentang kesiapannya untuk memutuskan ikatan dengan Kanjeng Ratu Kidul, Gusdur menjawab dengan santai, “Sudah aku SMS Ratu Kidulnya, kalau mau ketemu, aku suruh dia memakai jilbab.”

Jawaban Gusdur ini, selain menciptakan tawa keheranan dari Cak Nun, juga mengandung makna simbolis yang dalam. Dengan sederhana, Gusdur merangkul kepercayaan masyarakat dengan mengaitkan dimensi spiritual dengan nilai-nilai keagamaan, terutama melalui penggunaan jilbab sebagai simbol kesalehan.

Pendekatan ini mencerminkan kebijakan Gus dur dalam membangun dialog antara kekuasaan dan keyakinan rakyat, menciptakan suasana keberagaman dan toleransi dalam kepemimpinannya. Gusdur mengakui kepentingan menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemajuan, menciptakan dasar bagi dialog yang harmonis di tengah keragaman budaya Indonesia.

Baca:  Prabowo Subianto Gandeng Dukungan di Sumatera Utara dan Kepulauan Riau

Penulis : M. Yudha IF

M. Yudha IF
Muhammad Yudha Iasa Ferrandy – Mantan ketua Umum HMI Cab. Bengkulu 2018-2019
Gege Interior Bengkulu